About my Blog

But I must explain to you how all this mistaken idea of denouncing pleasure and praising pain was born and I will give you a complete account of the system, and expound the actual teachings of the great explorer of the truth, the master-builder of human happiness. No one rejects, dislikes, or avoids pleasure itself, because it is pleasure, but because those who do not know how to pursue pleasure rationally encounter consequences that are extremely painful. Nor again is there anyone who loves or pursues or desires to obtain pain

Istana Pagaruyung


Dini hari ini, menilik siaran TVRI tentang pembangunan kembali Istana Pagaruyung yang terbakar pada 27 Februari 2007 kemarin. Saya mendapatkan ketenangan dari musik melayunya, dan kerinduan yang amat sangat pada ketenangan alam pedesaan Minangkabau dan keluhuran budaya nenek moyang kita.

Dimulai dengan musayawarah, dan dilanjutkan dengan sebegitu banyak prosesi yang sakral dan penuh dengan simbol-simbol petuah yang tersirat... sungguh... betapa luhur budaya Minang.
Untuk pembangunan istana tersebut, tiang utama diambil dari suatu daerah tertentu dimana asal nenek moyang raja-raja Minangkabau berasal. Dan dilakukan pensucian dengan banyak rempah-rempah, sesaji, syukuran danjuga izin dari tetua adat, alim ulama dari daerah tersebut dan juga dari istana lain yang merupakan masih kerabat raja Minangkabau. Hal ini menunjukkan bahwa sebelum mempunyai rencana hajat yang besar kita harus meminta izin kepada Yang Kuasa, kepada yang dituakan dan kepada alam. Karena memang semua yang ada di dunia ini adalah sinergi dari banyak unsur. Sehingga diharapkan dengan izin Allah, nasehat dari tetua dan izin dari nenek moyang, sinergi alam tersebut tidak terlanggar.

Sebelum didirikan, tiang tersebut didoakan dan diberikan dzikir tolakbala agar terhindar dari mara bahaya. Allah memang telah mengatur semuanya, tetapi kita sebagai makhluk wajib berdoa supaya dijauhkan dari hal-hal jelek/membahayakan, karena hanaya Dia-lah yang Maha tahu. Pensucian tiang utama dengan darah kerbau yang dikorbankan, dan pemendaman kepala kerbau lebih mengacu kepada menghormati adat dan boleh dibilang sesembahan (karena makhluk Allah bukan manusia saja), bukan berarti syirik akan tetapi kita juga perlu bersedekah kepada siapa saja.

Tiang ditarik oleh ulama, tetua adat, keluarga raja dan juga masyarakat. Menggambarkan sinergi antara semua elemen bahwa untuk menegakkan sesuatu harus disokong oleh semua pihak.

Sungguh upacara yang menurut saya sangat menunjukkan Indonesia... Alhamdulillah saya lahir dan hidup di alam yang penuh dengan keindahan ini...
Dan suatu saat nanti saya ingin sekali berkunjung ke Minangkabau..
Malang,30 September 2007

0 komentar: