Bismillahirrohmanirrohiim..
Saya berkali-kali mampir di masjid, musholla kecil, surau, langgar atau bisa dibilang jauh dr kelayakan sebuah tempat sholat. Dari perjalanan saya ke Jawa Tengah dan seputar Jatim Barat, masjid adalah pilihan utama untuk sejenak melepas lelah, dan apabila sudah masuk waktu sholat.
Seringkali, saya kerepotan untuk sholat, karena :
1. Masalah parkir. Parkirnya tak senyaman warung makan atau SPBU yang luas dan rindang.
2. Gerbangnya kerapkali besar dan berpagar rapat, sehingga kesulitan masuk. Itupun jg berpengaruh terhadap pandangan orang. Artinya, sering kelewatan atau tidak terlihat sebagai masjid.
3. Kamar mandinya teramat kotor, bau pesing dan tidak tersedia cukup air, sehingga mengganggu kenyamanan..
dan ada Tulisan yang sangat mengganggu :
"DILARANG TIDUR DI MASJID/ MUSHOLLA"
sejak kapan kita "GAK BOLEH MERASA NYAMAN" Di rumah Allah???
bila dirasa amat mengganggu toh yg terasa terganggu khan si manusianya.. Gusti Allah gak akan mempermasahkan "TIDUR" kita..
Tidur adalah salah satu "Nikmat urga" yang diturunkan ke Bumi.
Belum lagi bila kita Sholat di (maaf)tempat orang sekuler.
Kita selesai sholat, maka lantainya akan langsung di pel..
jijik mereka dengan "kafir".. Subhanallah..
Masjid.. oh Masjid..
Sudah kau dibangun dengan cara meminta-minta sumbangan di jalan, masih direpotkan pula dengan aturan2 diluar syariat,Fiqh dan akhlak yang membatasi peribadatan umat Tuhan mu yang akan menggunakan dirimu sebagi sarana pendekatan terhadap-Nya..
Mari kita pelajari kembali, apa yang halal, haram, makruh dan sunnah yang bisa dilakukan di Area mulia bernama Masjid..
Alhamdulillah..
Satu Desa Satu Penyuluh Pertanian, Bullshit!!!

Mulai tahun 2007, pemerintah melalui Dinas Pertanian mengangkat THL PPL (tenaga Harian Lepas Penyuluh pertanian lapang). Banyak hasil positif didapat dari program tersebut,terutama adalah tercapainya swasembada beras pada tahun 2008. Setelah beberapa dekade Indonesia mengimport beras, akhirnya masa tahun 1984 dapat tercapai kembali.
Keberhasilan Anton Apriyanto dalam memimpin Deptan membuka angin segar bagi pembukaan kembali Penerimaan Tenaga THL pada tahun-tahun berikutnya. Hal tersebut guna memenuhi Program Satu Desa, satu Penyuluh pertanian.
Efektifkah???
Selama ini saya sering sekali dan memang harus bersinggungan dengan PPL. Sebagai pengembang areal kerjasama antara perusahaan dengan petani, PPL lah jalan yang memang kita tempuh. Akan tetapi bukan PNS namanya jika tidak adabanyak minusnya.
1. Staf kantor baru ada jam 11 siang, memang bisa dimengerti karena mereka orang lapang. Jadi saya seringkali harus jalan-jalan dahulu ataupun nyantai dahulu di hotel sebelum bisa ketemu mereka.
2.Uang.. uang... dan uang..., TIDAK SEMUA,tetapi kebanyakanmereka selalu beranggapan bahwa bila ada proyek pasti ada uang. Padahal, di swasta kita harus banting tulang dahulu sebelum bisagajian. HARUS mau MENANAM DULU SEBELUM BISA MEMANEN.
Kita pun tak menutup mata atas keringat mereka, tapi "Buktikan dulu dong kerjanya!!!"
3.Seringkali informasi tak tersampaikan ke petani. Berkali-kali kita harus turun sendiri ke poetani agar mereka sekedar mendengar informasi tentang teknologi baru. Ini terbukti pada saat saya sharing dengan petani, banyak petani loh...
4.Ke kantor hanya untuk duduk-duduk, ngopi, baca koran. Walah.........
5. Berusaha menghambat kerja kita (ancaman, kata kasar), jika tak ada upeti (asem!!!)
So???
Swadembada sih iya tapi "Mental" aparaturnya juga diperbaiki donk!!!!!
"TER" versi Saya
Selama 4 bulan ini saya sering bolak-balik Jateng dan Jatim yaitu, Kediri -Malang -Yogya -Banyumas-Purwokerto -Cilacap -Brebes - Tegal(Slawi) - Pekalongan - Semarang ada beberapa kota yang pantas mendapat "Anugerah "TER" versi saya".
1. Termacet Yogya.
2. Tersemrawut PKLnya Pemalang.
3. Terkorup Polantasnya Ngawi.
4. Terbersih Toilet Masjidnya Purwokerto.
5. Ternyaman kotanya Bumiayu,Brebes.
(apalagi jika anda melewati bypassnya, terhampar pesona pemandangan alam Gunung Slamet)
6. Terngeyel/Orangnya kolot Purwokerto.
7. Termudah jalannya/tidak gampang tersesat bagi pendatang Solo.
(karena banyak dan jelas penunjuk jalannya).
8. Tersusah jalannya/ Banyak RAMBU JEBAKAN Pare, Kediri (Hometown perush saya)
9. Teraneh rasa makanannya Tegal-Brebes (semua serba pake bawang goreng)
10. Kota tak pernah TERlupakan , tetep Yogyakarta dunk.
11. Terrusak jalannya Demak!!!
12. Lebih terrusak lagi alias 90% jalan daerahnya rusak Purwodadi, Grobogan.
1. Termacet Yogya.
2. Tersemrawut PKLnya Pemalang.
3. Terkorup Polantasnya Ngawi.
4. Terbersih Toilet Masjidnya Purwokerto.
5. Ternyaman kotanya Bumiayu,Brebes.
(apalagi jika anda melewati bypassnya, terhampar pesona pemandangan alam Gunung Slamet)
6. Terngeyel/Orangnya kolot Purwokerto.
7. Termudah jalannya/tidak gampang tersesat bagi pendatang Solo.
(karena banyak dan jelas penunjuk jalannya).
8. Tersusah jalannya/ Banyak RAMBU JEBAKAN Pare, Kediri (Hometown perush saya)
9. Teraneh rasa makanannya Tegal-Brebes (semua serba pake bawang goreng)
10. Kota tak pernah TERlupakan , tetep Yogyakarta dunk.
11. Terrusak jalannya Demak!!!
12. Lebih terrusak lagi alias 90% jalan daerahnya rusak Purwodadi, Grobogan.
NJLAJAH PROJO MILANG KORI (Tegal)
Akhirnya, saya yang “ketiban sampur” untuk berangkat” mencari kitab suci ke barat”. Hehehe..
Setelah lama berkutat di Madiun, Magetan dan Ngawi yang notabene daerah asal saya. Mulai per 16 November 2008 saya menjelajah ke Karisedenan Pekalongan.
Sebagai cara untuk memenuhi target produksi benih 70.000 ton/tahun pada tahun 2009 ke depan. PT.BISI international Tbk, khususnya wilayah west area semakin melebarkan sayapnya. Termasuk di wilayah Karisedenan Pekalongan. Pabrik baru berkapasitas 40.000 ton/tahun yang dibangun di Pare, direncanakan selesai pada akhir tahun 2008 ini. Sehingga kita harus berkejaran dengan waktu.
Sebagai orang Mataraman yang telah terkontaminasi bahasa Surabaya-Malangan, Madura dan juga Sunda. Sekarang perbendaharaan logat saya bertambah lagi. “nyong”, “siji maning”, “kepriben”, “ngapak-ngapak” begitu familiar di telinga saya sekarang. Pertama kali mencoba keluar untuk servis motor, saya bener-bener linglung. Bahasa apaan neh?? Kok lucu banget.hihihi.. Medhok bgt bahasa Ngapak-ngapaknya ya.. Sama juga, mereka pasti ketawa dengar saya pakai bahasa ketoprak yang medhok Mataramannya.hihihi..
Ke depan semoga dengan semakin melebarnya sayap BISI di Karisedenan Pekalongan, kesejahteraan petani disini akan semakin meningkat. Bukan lagi berdasar hasil satuan ton/ha-nya akan tetapi lebih kepada jumlah uang yang diterima.
Dan, saya akan banyak membawa oleh-oleh “kapak” yang banyak sepulang dari kota Tegal ini..hahaha.
Dan Soto Tegal mah, masih kalah ama Soto Lamongan!!! Kepriben????
Setelah lama berkutat di Madiun, Magetan dan Ngawi yang notabene daerah asal saya. Mulai per 16 November 2008 saya menjelajah ke Karisedenan Pekalongan.
Sebagai cara untuk memenuhi target produksi benih 70.000 ton/tahun pada tahun 2009 ke depan. PT.BISI international Tbk, khususnya wilayah west area semakin melebarkan sayapnya. Termasuk di wilayah Karisedenan Pekalongan. Pabrik baru berkapasitas 40.000 ton/tahun yang dibangun di Pare, direncanakan selesai pada akhir tahun 2008 ini. Sehingga kita harus berkejaran dengan waktu.
Sebagai orang Mataraman yang telah terkontaminasi bahasa Surabaya-Malangan, Madura dan juga Sunda. Sekarang perbendaharaan logat saya bertambah lagi. “nyong”, “siji maning”, “kepriben”, “ngapak-ngapak” begitu familiar di telinga saya sekarang. Pertama kali mencoba keluar untuk servis motor, saya bener-bener linglung. Bahasa apaan neh?? Kok lucu banget.hihihi.. Medhok bgt bahasa Ngapak-ngapaknya ya.. Sama juga, mereka pasti ketawa dengar saya pakai bahasa ketoprak yang medhok Mataramannya.hihihi..
Ke depan semoga dengan semakin melebarnya sayap BISI di Karisedenan Pekalongan, kesejahteraan petani disini akan semakin meningkat. Bukan lagi berdasar hasil satuan ton/ha-nya akan tetapi lebih kepada jumlah uang yang diterima.
Dan, saya akan banyak membawa oleh-oleh “kapak” yang banyak sepulang dari kota Tegal ini..hahaha.
Dan Soto Tegal mah, masih kalah ama Soto Lamongan!!! Kepriben????
REG (SPASI)

Berkali-kali melihat siaran di salah satu tv swasta nasional, malah bikin emosi saja. Malah bikin suntuk, bukannya malah mendapat informasi yg segar atau terhibur. Penyebab utamanya karena saking banyaknya iklan yang berbau “REG (Spasi)”. Coba aja liat di Global TV. Sebagai tv yang menyasar pasar anak muda dan musicholic, Global TV menjadi lahan subur iklan tersebut. Dari mulai REG JODOH, REG NAMAKAMU,sampai REG (SPASI) yang lainnya.
Layanan berbayar, dengan beragam konten tersebut membuat beberapa pihak sengsara. Contohnya mama saya. Dulu hampir tiap hari pulsanya terbuang sia-sia sejumlah Rp.2000-4000/sms. Jika dalam 1 hari minimal ada 2 sms maka yg terpakai adalah Rp.4000,- / Rp.8.000,-. Dikalikan selama sebulan maka mencapai Rp.120.000,-/ Rp.240.000,-. Dikira-kira sajalah, bila jumlah pelanggannya 100 orang, pendapatan yang diperoleh sang provider Rp.24.000.000,-. Provider 9090 atau 9330 yang banyak memiliki berbagai konten, tentu akan terus semakin berlipat uang yang berhasil dikeruk.
Anak buah saya, yang untuk makan setiap harinya saja agak susah mengeluhkan adanya layanan tersebut. Namanya juga orang desa, tentu iming-iming hadiah atau model cantik membuat dia gampang tergoda. “waduh, suloyo aku mas (waduh, kesusahan saya mas)”. Dengan mencoba beberapa kali “UNREG” yang berbeda, akhirnya terputus sudah dari belenggu “setan REG (SPASI)”.
Kedepan dengan adanya pengalaman seperti ini, saya berharap orang Indonesia semakin bijak menggunakan fasilitas tehnologi yang semakin murah tersebut. Sehingga kejadian parah seperti jamannya layanan telepon premium “0809-XXXXXX” tidak terjadi.
New Home..

Menatap kepada masa lalu, tak layaknya saya mengeluhkan apa yang didadatkan sekarang.
Walaupun kami harus dijuluki PLO (Pasukan Lali Omah +Pasukan Lupa Rumah), yang jelas apa yang kami peroleh sebanding dengan kerja keras kita.
BISI sebagai perusahaan terbuka yang sudah go international, semakin berkembang dengan orang-orang muda di dalamnya. Flashback, begitu juga Jawa Pos, sayang Jawa Pos bukan perusahaan terbuka,bukan perusahaan publik, dan bukan pula perusahaan yang patuh terhadap UU no.13 tentang ketenaga-kerjaan.
ah, masa bodohlah...
Hahahaha.. Lega banget.akhirnya lebaran tahun ini bisa menengok ke rumah nenek,sodara dan teman-teman SD ampe masa kuliah dulu. Memang, sejak 1 minggu sebelum lebaran, pengumuman akan cuti bersama sudah terpasang.
Alamak!!! loh mana calon istrinya? waladalah, jangan lagi deh pertanyaan kayak gitu. Capek njawab, capek makan hati juga bes. walau sebenarnya sudah ada calon, tapi keinginan untuk menunda dan memantapkan pilihan masih bergelayut di pikiran. Bener gak sih ini jodoh yang dipilihkan Tuhan??
Berjuta pikiran berdatangan bagai desing peluru di medan laga (hihihihi.. kok puitis gini)./
Alhamdulillah, semalam saya sudah tidur di kost baru yg dekat dengan kantor. Bulan depan rencana untuk mengganti kendaraan dengan yang gress sudah terencana, semoga aja jadi. target dari perusahaan akan menyusul di akhir bulan, tinggal nunggu laporan dari foreman-foreman yang selama ini rajin membantu saya (ada bonusnya dong!!)
Mungkin itu sedikit intermezzo selama puasa dan lebaran kemaren.. Dibalik peristiwa sebulan kemarin yang mengikuti hari-hari baru di tempat baru, terbersit pikiran:
Ternyata diperlukan kearifan dan kedewasaan yang cukup untuk memimpin sebuah team. Anak buah yang 1 itu aktif sekali
bekerja malah sulit di stop. Yang 1 malasnya ampun. Mengatasi berbagai orang dengan karakter dan usia yang berbeda, menjadi tantangan yang mengasyikkan. Beda sekali dengan karakter orang timuran (Jombang, Malang, Surabaya dan sekitar), orang di daerah mataraman lebih halus dalam berbicara, bukan orang yg spontan dalam menyampaikan pendapat. Sulit untuk berkata ya atau tidak!!
Itulah salah satu sebab, perusahaan semakin meningkatkan standart kelulusan bagi karyawannya.
Semakin tinggi pendidikan seseorang, "insya Allah" akan semakin dewasa dalam bertindak.
Doakan saya semoga semakin betah di tempat baru..
Candi Bata Merah Nganjuk
(Candi bata merah di Jalan raya Loceret- Guyangan, *pic by Tharom)Sore yang cerah itu tampak 2 orang pria bercakap-cakap. Sewaktu saya datang,pria yang tampak lebih tua sejurus kemudian pergi. Sore itu saya bisa menyempatkan mampir ke candi yang terletak dipinggir jalan raya Loceret-guyangan Nganjuk tersebut.
Sewaktu perjalanan dinas ke Madiun, selasa 16 september 2008 kemarin, akhirnya saya bisa mampir di sebuah candi yang terlihat sangat sederhana sekali, sekaligus untuk istirahat.
Dari keterangan yang saya peroleh,
Candi Bata merah dibangun pada 10 april 937 masehi. Candi tersebut dipegang erat oleh Pohon Kepuh. Pohon yang sudah berusia 500 tahun tersebut masih keliatan kokoh berdiri dengan akar-akarnya yang kekar mencengkeram banguanan candi.
( akar Pohon Kepuh terlihat kuat mencengkeram bangunan Candi *Pic by Tharom))Di sebelah barat candi, ada makam Yang Sekti dan yang Yang Kerti, abdi kinasih dari Empu Sendok.
diantara patung lambang Lingga dan Yoni terdapat Patung dewa ciwa dan patung ganesha.
Candi dengan luasan 142,60m2 tersebut menandai berdirinya Kota Nganjuk.
Menurut Singgih,20th, penjaga dari candi tsb. Candi Bata Merah hanya digunakan atau dimanfaatkan sewaktua acara Hari Raya Nyepi saja.
Biasanya, jika candi tersebut adalah simbol tonggak berdirinya Kota Nganjuk, maka tentunya tiap tahun akan diadakan ritual di candi tersebut. Sesuai adat istiadat orang jawa.
Akan tetapi selama ini Ritual untuk memperingati ulang tahun kota nganjuk
hanya dipusatkan di Air Terjun Sedudo.
Walaupun, keberadaannya di lindungi pagar berduri, dijaga dan dirawat oleh dinas
pariwisata kota Nganjuk. Dikhawatirkan keberadaannya tidak akan diketahui oleh putra-putri
Nganjuk sendiri. Jika tidak diperkenalkan kepada para generasi muda. Apalagi letaknya yang berada di tengah-tengah perkebunan jagung kurang menarik minat para pengunjng. Hanya sesekali tampak muda-mudi yang menggunakannya untuk berpacaran.
Berikut ringkasan Cerita sejarah bangunan Candi tsb:
Di sekitar Tahun 929 M di Desa Candirejo Kec. Loceret Kab. Nganjuk telah terjadi pertempuran hebat antara prajurit Empu Sendok melawan Bala Tentara kerajaan Melayu (Sriwijaya). Bala Tentara (Prajurit) Empu Sendok memperoleh kemenangan gilang gemilang, kemenangan ini diperoleh dari dukungan rakyat desa-desa disekitarnya, kemudian Empu Sendok dinobatkan menjadi raja bergelar SRI MAHARAJA MPU SENDOK SRI ISTANA WIKRAMA DHARMA TUNGGA DEWA selama 8 tahun, kemudian kemenangan ini ditandai dengan sebuah tugu bernama JAYA STAMBA dan SEBUAH CANDI atau Jaya Merta dan terhadap masyarakat desa sekitar candi karena jasa-jasanya dalam membantu pertempuran, oleh Empu Sendok diberi hadiah sebagai desa perdikan atau desa bebas pajak dengan status Sima Swatantra " Anjuk Ladang ". Anjuk berarti : tinggi secara simbolis mendapat kemenangan gilang-gemilang. Ladang berarti : tanah atau daratan sejalan dengan perkembangan Zaman kemudian berkembang menjadi daerah yang lebih luas.
Berdasarkan pada kajian dan analitis sejarah inilah maka tanggal 10 April 937 Masehi disepakati sebagai hari jadi Nganjuk, selanjutnya dengan Surat Keputusan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Nganjuk Nomor 195 Tahun 1993 ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Nganjuk.
AREMA oh.. AREMA....
Liburan minggu kedua kali ini saya manfaatkan sebaik mungkin. Masih seperti minggu kemarin, Malang adalah tujuan saya. Usaha saya untuk sampai di kota dingin ini sebelum Adzan maghrib terlaksana. Pun akhirnya undangan untuk mendatangi syukuran rumah baru, temen di Radar Malang bisa tercapai.
Tawaran menonton Arema versus PKT Bontang pun tak menyurutkan niat, walau perut masih kenyang ama sate gule yang mak nyusss..
Malam minggu ini massa di sekitar Stadion Kanjuruhan, Kepanjen bener2 padat, tumplek blek.. antara yang nonton ama yg cuma pengen jalan2 doang ke Stadion Kanjuruhan malang. Maklum, pada malam minggu ini. Stadion kanjuruhan juga membuka fasiltas bermainnya..
Mobil yang kami tumpangi masih terjebak kemacetan ketika skor sudah tercipta 1-1.
Syukur alhamdulillah, kami cuma telat 15 menit.
Arema malam ini benar-benar menyuguhkan permainan yang bagus, mungkin karena inilah laga Home terakhirnya. Dan Pemain yang 2 pekan dahulu masih membela timnas U-21 dibawah arahan Bambang nurdiansyah sudah dimainkan. Minggu terakhir kerja di Jawa Pos Radar malang, saya masih ikut meliput persiapan Gusnul Yakin menyiapkan skuad-skuad pengganti di Stadion Brantas,Batu tanggal 27 Agustus 2008. Dan beliau Optimis akan bisa membawa AREMA ke puncak klasemen.
Sayang, pertandingan menjadi tidak menarik karena Wasit jelas-jelas tidak profesional. Berkali-kali kesalahan yang dilakukan Arema maupun PKT telat diantisipasi. Tiupan peluit seringkali telat. Mirip wasit di pertandingan Tarkam. Permainan PKT pun memicu emosi (mengolor-olor waktu).
Walhasil, kartu merah berbuah kepada Emilie Bertrand Mbamba di akhir pertandingan akibat protes kerasnya. Penonton pun mulai kisruh. Pembakaran atribut mulai terjadi. Kerusuhan akhirnya meledak saat peluit panjang ditiup.
(suasana kerusuhan Arema versus PKT Bontang 13 Sept 2008* pic by Tarom)
Manajer Arema, Pak Ekoyono memukul wasit Suprihatin, Meiga (kiper) memukul hakim garis. Pun Massa di tribun timur semburat turun ke lapangan. Banner pun ludes dirusak Oknum Aremania...
Untung, saya saat itu duduk di VIP dekat dengan para Official Arema.
Apapun sanksi yang akan diturunkan Komdis PSSI ke Aremania, sebaiknya mereka menelusuri dahulu apa yang memicu hal tersebut.
(berikut cuplikan dari Mailist Aremania :
Tawaran menonton Arema versus PKT Bontang pun tak menyurutkan niat, walau perut masih kenyang ama sate gule yang mak nyusss..
Malam minggu ini massa di sekitar Stadion Kanjuruhan, Kepanjen bener2 padat, tumplek blek.. antara yang nonton ama yg cuma pengen jalan2 doang ke Stadion Kanjuruhan malang. Maklum, pada malam minggu ini. Stadion kanjuruhan juga membuka fasiltas bermainnya..
Mobil yang kami tumpangi masih terjebak kemacetan ketika skor sudah tercipta 1-1.
Syukur alhamdulillah, kami cuma telat 15 menit.
Arema malam ini benar-benar menyuguhkan permainan yang bagus, mungkin karena inilah laga Home terakhirnya. Dan Pemain yang 2 pekan dahulu masih membela timnas U-21 dibawah arahan Bambang nurdiansyah sudah dimainkan. Minggu terakhir kerja di Jawa Pos Radar malang, saya masih ikut meliput persiapan Gusnul Yakin menyiapkan skuad-skuad pengganti di Stadion Brantas,Batu tanggal 27 Agustus 2008. Dan beliau Optimis akan bisa membawa AREMA ke puncak klasemen.
Sayang, pertandingan menjadi tidak menarik karena Wasit jelas-jelas tidak profesional. Berkali-kali kesalahan yang dilakukan Arema maupun PKT telat diantisipasi. Tiupan peluit seringkali telat. Mirip wasit di pertandingan Tarkam. Permainan PKT pun memicu emosi (mengolor-olor waktu).
Walhasil, kartu merah berbuah kepada Emilie Bertrand Mbamba di akhir pertandingan akibat protes kerasnya. Penonton pun mulai kisruh. Pembakaran atribut mulai terjadi. Kerusuhan akhirnya meledak saat peluit panjang ditiup.
(suasana kerusuhan Arema versus PKT Bontang 13 Sept 2008* pic by Tarom)Manajer Arema, Pak Ekoyono memukul wasit Suprihatin, Meiga (kiper) memukul hakim garis. Pun Massa di tribun timur semburat turun ke lapangan. Banner pun ludes dirusak Oknum Aremania...
Untung, saya saat itu duduk di VIP dekat dengan para Official Arema.
Apapun sanksi yang akan diturunkan Komdis PSSI ke Aremania, sebaiknya mereka menelusuri dahulu apa yang memicu hal tersebut.
PSSI TIDAK AKAN PERNAH MAJU APABILA DIPIMPIN OLEH KRIMINAL SEMACAM NURDIN HALID
(berikut cuplikan dari Mailist Aremania :
"Update skor untuk Arema-PKT Bontang 1-2 untuk PKT Bontang sedikit ada kerusuhan seusai pertandingan dikarenakan kepimpinan wasit yang tidak fair bahkan manajer arema ekoyono ikut memukuli wasit pertandingan yang awalnya menarik tapi tidak berakhir dengan menarik Semoga semua bisa pulang dengan selamat ini akan menjadi buntut yang panjang karena aremania masih dalam status percobaan semoga tidak ada tambahan sangsi atas perbuatan aremania darah muda Salam satu jiwa satu kata A-R-E-M-A"
http://groups.yahoo.com/group/arema-l/
http://groups.yahoo.com/group/arema-l/
Next Chapter part 2 (habis)
Hari pertama kerja sempat kaget juga.. "mas sudah siap ke Cilacap?". Matilah awak nie.. baru pertama masuk kerja di Bisi udah diajak Bos ke Cilacap. Kaget!! sumpah, kirain pake sepeda motor. Akhirnya trip pertama ke Ujung selatan Jawa tengah tsb, terlaksana pada hari ke 2. Setelah balik, tripnya di teruskan dengan mengunjungi kota-kota di Jawa timur yang lain. Alhamdulillah, mungkin sama Allah sudah diarahkan ke West Area, jdnya sering nengokin rumah di Madiun.
(pantai Teleng Ria Pacitan dilihat dari atas bukit menuju Lorok * Pic by Tarom)
Walo baru sembuh 3 bulan dari sakit Liver, secara fisik saya merasa muda kembali bekerja di tempat baru ini.. Bayangkan saja, 2 tahun kerja dengan tanpa kejelasan nasib, Gaji di bawah UMR, Job desc yang gak jelas, kerja tanpa libur, *Jawa Pos gak ada libur* membuat saya memendam dalam-dalam cita-cita saya untuk sukses.
Saya mulai berfikir untuk pindah, disaat sakit Liver kemarin. 1 bulan di rumah sakit, membuat pikiran saya sejenak menjauh dari rutinitas kerjaan. Keinginan menata kembali hidup muncul, karena gaji yg diterima sangat kecil, jauh dari uang saku yang saya terima dulu waktu kuliah. memang semuanya harus di syukuri, tetapi bila masih bisa dapat lebih, kenapa tidak berusaha.
Bak gayung bersambut, saat saya ke kampus ada Info Lowongan kerja di PT. BISI. Setelah melalui 4 test yang sulit, rejeki Allah pun hinggap ke saya.. Alhamdulillah.
Tentunya dengan gaji besar dan status yang jelas. tanggung saya akan semakin besar. Tidak masalah.. Selama kita bersyukur dan banyak berdoa, insya Allah, Tuhan akan memberikan kemudahan...
Bila saya tak sering lagi Upload/ Posting, itu karena saya masih harus menyesuaikan ritme dengan pekerjaan baru saya.. Semoga ilmu Jurnalistik yang diperoleh sewaktu di Jawa Pos Radar Malang dahulu tidak akan jadi karatan..
Terima kasih Pak Dahlan, Bu Nany, Pak Roy (Rohman Budijanto), mas Chandra, mas Suryo, Mas Upit (Expedisi), Mbak Titik(EXpedisi) dan semua Crew Radar Malang untuk kerjasamanya selama ini.
(pantai Teleng Ria Pacitan dilihat dari atas bukit menuju Lorok * Pic by Tarom)Walo baru sembuh 3 bulan dari sakit Liver, secara fisik saya merasa muda kembali bekerja di tempat baru ini.. Bayangkan saja, 2 tahun kerja dengan tanpa kejelasan nasib, Gaji di bawah UMR, Job desc yang gak jelas, kerja tanpa libur, *Jawa Pos gak ada libur* membuat saya memendam dalam-dalam cita-cita saya untuk sukses.
Saya mulai berfikir untuk pindah, disaat sakit Liver kemarin. 1 bulan di rumah sakit, membuat pikiran saya sejenak menjauh dari rutinitas kerjaan. Keinginan menata kembali hidup muncul, karena gaji yg diterima sangat kecil, jauh dari uang saku yang saya terima dulu waktu kuliah. memang semuanya harus di syukuri, tetapi bila masih bisa dapat lebih, kenapa tidak berusaha.
Bak gayung bersambut, saat saya ke kampus ada Info Lowongan kerja di PT. BISI. Setelah melalui 4 test yang sulit, rejeki Allah pun hinggap ke saya.. Alhamdulillah.
Tentunya dengan gaji besar dan status yang jelas. tanggung saya akan semakin besar. Tidak masalah.. Selama kita bersyukur dan banyak berdoa, insya Allah, Tuhan akan memberikan kemudahan...
Bila saya tak sering lagi Upload/ Posting, itu karena saya masih harus menyesuaikan ritme dengan pekerjaan baru saya.. Semoga ilmu Jurnalistik yang diperoleh sewaktu di Jawa Pos Radar Malang dahulu tidak akan jadi karatan..
Terima kasih Pak Dahlan, Bu Nany, Pak Roy (Rohman Budijanto), mas Chandra, mas Suryo, Mas Upit (Expedisi), Mbak Titik(EXpedisi) dan semua Crew Radar Malang untuk kerjasamanya selama ini.
Subscribe to:
Posts (Atom)





