About my Blog

But I must explain to you how all this mistaken idea of denouncing pleasure and praising pain was born and I will give you a complete account of the system, and expound the actual teachings of the great explorer of the truth, the master-builder of human happiness. No one rejects, dislikes, or avoids pleasure itself, because it is pleasure, but because those who do not know how to pursue pleasure rationally encounter consequences that are extremely painful. Nor again is there anyone who loves or pursues or desires to obtain pain

Showing posts with label scorpio. Show all posts
Showing posts with label scorpio. Show all posts

Facelift New Scorpio Z ala Touringrider



Daripada membahas lampu New Scorpio Z, yang kata si ini harusnya gini, katanya si itu mestinya gitu. Mending refresing liat gambar di bawah ini. iseng2 ngutak-ngatik gambar dari internet. nyoba2 facelift, biar New Scorpio tampah cakep.

ayo coba temukan lima perbedaan dibawah ini :


facelift ala touringrider's

cowok itu bukan saya lo...hehehe


Berhadiah : PERTAMAX!!!! qiqiqiqiqi..
Pio keinginan saya : lampu depan tetap bulat.

Journeys to Bromo (jalannya Kentirr, mak nyusss buat adu nyali)

Setelah menyelesaikan administrasi di kantor, sabtu siang jam 10.00 tgl.25, saya meluncur ke Malang, siang itu kita bertiga, saya (touringrider), bro WSP dan Azizy berencana untuk Touring bareng ke Bromo. Sekalian Kopdar bareng blogger Indomotoblog (Mas Taufik, Mas Tri dan Mbah Edo (ada bro Roda Gila jg kayaknya)).


Saya menyusul bro WSP di pasar lawang, kemudian menyusul bro Azizy di pertigaan jalur Bromo Via nongkojajar. Sebelum bertemu bro Azizy, sempet diguyur hujan deras di Fly over Lawang, namun laju motor nggak bisa dihentikan.qiqiqiqi..

Menyusuri jalan yang asing, touringriderpun cukup menjadi sweeper, alias yang paling belakang. Maklum, belum pernah touring ke Jatim sebelah timur.

Jalanan via Pasrepan benar-benar menantang, kualitas belokan sangat yahud. Jalur Pujon-Ngantang-Kasembon yang biasanya saya libas di akhir pekan masih belum ada apa-apanya jika dibandingkan. Wel, walaupun beberapa kali CB bro azizy rewel, namun darah muda yang masih mengalir di jiwanya, mampu mengalahkan motor CB tua yang ditungganginya (applaus buat Bro Azizy).

Setelah istirahat beberapa saat di gardu pandang, pertigaan sebelum penanjakan, saya kebagian ngebonceng bro Azizy karena CBnya sudah bener-bener tak mampu diajak jalan. Jalanannya benar-benar menantang. Terjal, curam dan makadam. Hanya 1 yang saya pikirkan waktu itu "asemmm, velg CW Scorpio ane baru neh!!.hahahaaaa..

Berbekal GPS, bro WSP menjadi penunjuk jalan yang handal. Bro azizy berkali-kali mensupport saya, "awas jurang disebelah kiri", "awas jurang di sebelah kanan", "awas turunan curam". Jangan harap si Pio sukses 100% melahap lautan pasir, berkali-kali saya dan bro azizy hampir jatuh gara-gara selip, puncaknya saya tidak mampu menghandle spin di kubangan lumpur, dan..srutttt.. bruak.. (*maaf loh bro azizy,agihihihi).

Alhamdulillah wa syukurillah, dapet nasi Kotak dari Yamaha.. laper euy.. Sembari makan, saya ngobrol dengan Mas Tri, mas Taufik, Mbah Edo dan Pak Paulus dari YMKI. Mulai masalah istilah dan definisi ambles, kepala klingon, moncer dll. Suasana akrab khas brotherhood langsung mengalir begitu saja. Diiringi musik dari Steven & coconut trees and shaggydog.

Setelah acara Launching, para Artis Indomotoblog harus balik ke Hotel. Touringrider, WSP dan Azizy masih ingin narsis-narsis dulu di situ. Maklum, kalau ndak ada acara foto-foto kkhan nggak afdol. Setelah puas, kita kembali menyusuri jalan menuju penanjakan.

Tetap dengan GPS nya bro WSP menjadi navigator handal. Sempat disalip ama KLX, tapi kaciaaannn.. kesasar KLXnya.hahahaha.. Sampai-sampai harus dikejar oleh warga lokal yang mengingatkan.

Dan, inilah saatnya menguji nyali di penanjakan.. brummmm, si Pio asli kewalahan menaklukkan tanjakan. Karakter Scorpio saya yang responsif, dipadu dengan jalanan makadam yang terjal, membuat saya miris.. Pikiran saya selalu : Velg-velg dan velg.. tambahan juga, Kampas Kopling sebenarnya waktunya ganti Sabtu itu, namun saya paksakan untuk Touring dahulu. Walhasil, bro Azizy harus pakai acara jalan kaki. Setelah sampai di jalan yang lumayan mulus, si Pio kembali melenggang, hehehe..

Jam12 malam, Sembari menunggu sunrise, kita nginep di salah satu warung. Makan minum kopi dan mie telor sambil ngangetin badan di depan perapian. Pagi sekitar jam4, mulai banyak wisatawan datang. Kitapun ikut bersiap.

Masya Allah.. indahnya sunrise di Bromo. Saya nggak akan banyak cerita, silahkan dinikmati saja gambarnya.

Ada beberapa hal yang harus saya akui dari touring kali ini.

  • Darah tua (saya dan WSP) emang masih kalah ama darah muda (Azizy).aghihihi..
  • GL Pro series adalah Motor eces dan sip untuk menaklukkan jalanan terjal Gn.Bromo. (nih artikel dari Bro Azizy)
  • Pakai Mio?? Vario?? kasihan motornya. :))

Bengkel Pak To , Pare (Recomended)

Setelah saya Modif ganti velg kemarin (http://touringrider.wordpress.com/2010/09/09/scorpio-ngidam-velg-17/) masih ada beberapa pekerjaan rumah. Karena, intinya modifikasi adalah memasang barang yang bukan bawaan asli dari pabrik. Maka, perlu ada beberapa penyesuaian agar keamanan dan kenyamanan masih terjaga.

Cakram depan masih ngesrot/nempel pada kaliper, karena lebar rumahan/Bushing/bosh velg CW kurang lebar sekitar 5mili. Selain bunyinya miris, cakrampun menjadi panas sekali. Dampaknya bagian yang bersinggungan menjadi semakin tergerus. Ujung-ujungnya rem pun menjadi tidak pakem.

Hal tersebut juga membawa dampak, shockbreaker depan menjadi terdesak agak ke dalam, menjadi tidak lurus/ agak tertekuk. Efeknya, pantulan menjadi tidak selembut aslinya.

Rencananya, Si Pio tidak akan saya masukkan 73 motor lagi (kecewa), namun akan saya masukkan bengkel di Pasar Njoyo, Madiun di bengkel langganan saya.

Dus, rencana saya berubah. Setelah Kopdar dengan bro Benny Bikers (anggota Koboi juga) , dia menyarankan untuk menyervis di Bengkel Pak To Tertek Pare.

Si Pio dibenerin sama mas sapto

Sabtu pagi-pagi sekali sekitar jam 8, Pio dibongkar. setelah menjelaskan maksud dan tujuan (halagh..hehe), si Pio muai dibongkar roda depannya. Di bengkel mas Sapto yang didirikan oleh Pak To (mbahnya sang mekanik) ini, ada dua bagian. yang depan khusus bubut, colter, tambal blok mesin, dll dah.. yang samping agak belakang buat bengkel motor.

Dudukan Cakram Pio dibubut, agar bisa masuk agak ke dalam (entah berapa mili). Kemudian cakram juga dibubut ulang, karena agak sedikit goyang (kok bengkok ya, gak nyadar kalo g lurus). Agar lebarnya sesuai, dan jarak velg dengan Shock depan antara kanan dan kiri pas, maka ganjal ring setebal 5 mili, dipasang pada sebelah kanan/dekat as cakram. alhamdulillah, jam 12 kelar.

Untuk pengerjaannya memang terasa lama,yaitu 4 jam dari jam 8 sampai 12. Namun, saya merasa puas, Karena

  • mas Sapto (mekaniknya) bisa diajak ngobrol dan sharing masalah motor.
  • Pengerjaannya teliti sekali dan sesuai kemauan kita.
  • Selama itu, dia tidak nganggurin si Pio. maksudnya, bila ada motor lain datang, sewaktu cakram Scorpio saya masih dibubut oleh mekanik lain, dia baru ngerjain motor yg baru datang. Cakramnya si Pio sudah selesai, motor lain ditinggal dulu. Efektiflah gampangnya.
  • Recomended oleh KOYS (Kediri Owners Yamaha Scorpio), COP (Community Yamaha Pare) dan Jupiter Lovers.

Selama 4 jam nongkrong disana saya ngiler, bukan karena UG atau ada celengan. tapi karena banyak motor CB 100, CB 125 dan Binter yang masih original. Dan hebatnya yang punya mbah-mbah. Terbersit dalam hati.

Honda gareng

Gimana nih kalo motor ini saya tawar. Lah wong masih original, kinyis-kinyis, mulus lagi. daripada tiap hari buat angkat panen? yatho- yatho- yatho.hahahaha..

Scorpio rasa CDI BRT

Speeder freak seperti saya, tak akan puas dengan kecepatan yang sudah dicapai. Rasa penasaran dan keinginan untuk merasakan sensasi melaju high speed di motor kesayangan harus terus dikejar.

Untuk mengobati rasa penasaran, sebelum lebaran, CDI Scorpio asli bawaan pabrik saya ganti merk BRT. Harganya Rp.340.000,-, tinggal Plug and Play saja alias PnP. Saya dapat barangnya di 73 motor, Madiun. (saya sangat kesulitan nyari bengkel Modif di Kediri).

Untuk rasanya setelah dipasang dan di test Ride selama 1 bulan, sebagai berikut.

Gigi perseneling 3, RPM 7000, mencapai kecepatan 80 Kpj. Gigi 4, RPM 7000, mencapai 100 Kpj, Gigi 5 nggak pernah nyoba. Untuk RPM Maksimal yang pernah saya coba adalah 9000RPM, Gigi 4 bisa mencapai 120Kpj. Gigi perseneling 5??? nggak tahu deh.. Jarang pakai Gigi 5, masuk gigi perseneling 4 saja sudah cukup.

Sedikit saran buat teman2 yang ingin mengganti ke BRT, ada obrolan saya dengan teman Scorpioholic di Fb, agar Accu jangan sampai tekor.

semoga bermanfaat.

Scorpio ngidam Velg 17″

hihihi, emang nih, Scorpio saya sudah ngidam velg 17″ sejak dari bulan Desember tahun2009 kemarin. Alhamdulillah, rejeki THR dan Insentif dari kantor cair tepat pada waktunya. Daripada kelamaan ngendon di tabungan yang ditakutkan malah akan terpakai untuk keperluan lain, maka lekas-lekas saja dibelanjakan. walaupun eman dengan ban Swallow x-worm yang masih lumayan.hiks.. (sapa yg mau? bekas tapi)

ban lama Pio

Malam sebelumnya (8 september 2010), saya nongkrong dengan teman-teman V-nom (V-ixion Owner Madiun), karena liat modif-modif keren dan ngobrol masalah motor, makin keracunan dah, dan yang jelas makin menjadi-jadi niat untuk ganti velg.

Setelah beberapa kali survey di seputaran kota Madiun, maka jam 10 pagi tadi (9 september 2010), si Pio saya masukkan ruang rawat inap ke 73 motor.

Si Pio ngidam velg ring 17″ merk I-Pro. sebenarnya dia ingin merk Power-1. Sayang, saya kehabisan stok waktu ke Wisnu motor. Untuk bannya, saya sarankan agar Pio memilih Corsa 110/70-17 untuk depan dan 120/70-17 untuk belakang, tambah yahud dia menginginkan tubeless.

Untuk daftar belanjaannya di 73 motor, Jl.Cokroaminoto 86 Madiun, sebagai berikut :

daftar belanja di 73 motor

1 set Velg I-Pro Ring 17″ CW Rp.1.085.000,-(udah discount loh)

1 Ban Corsa ukuran 110/70-17 Rp.260.000,-

1 Ban Corsa ukuran 120/70-17 Rp.290.000,-

2 pentil tubeless Rp.15.000,-

2 Lager TDR 6202C20 (krn orinya oblak) Rp.40.000,-

Saya masih belum puas, karena posisi spatbor depan masih cungkring,

velgnya masih cungkring

so mekanik 73 motor minta dibawa kesitu lagi hari senin 13 september 2010. Dikarenakan sore itu mereka sudah mau siap-siap merayakan Takbir Lebaran.

Setelah mengeluarkan total Rp.1.690.000,-, si pio bakalan nambah ngidamnya, ninggikan monoshock belakang pada hari senin 13 september nanti. Moga-moga rejekinya masih ada ya..

penampakan baru si Pio

Rantai Scorpio dan Filter Oli

Masih ada kaitannya dengan Postingan sebelumnya.

Karena memang sudah berumur tua (5 tahun), pasti ada saja kerewelan pada nih Pio. Suara kemretak/ berisik pada rantai membuat saya benar-benar terganggu, masak motor kencang suaranya ngalahin "TIGER" (buat Tigermania sorry).hahaha..

Setelah cek, memang rantai sudah waktunya diganti dengan yang baru. 1 set harganya Rp.760 .ribu. Rantai yang menunjukkan gejala minta diganti adalah yang sudah keliatan tidak pas waktu bersanding dengan sproketnya. Rantainya sudah nggak elastis lagi alias bengkok-bengkok (waduw, parah!!!)
Setelah pasang baru.. Trataaaa... suara yang muncul ketika narik kopling dan lepas gas adalah gesekan ban. alusssss..

berkaitan dengan postingan sebelumnya tentang Filter Oli.
Sekalian saja saya ganti part berharga Rp.80.000,- ini. Selain karena sudah lama tidak diganti sejak saya beli 2 tahun silam (KM.30.000an sekarang 63.000an), saya mewrasakan keanehan, karena konsumsi OLI Mesinnya 1600ml. Kalau dipaksakan pakai 1200ml sesuai yang tertera di blok mesin, mesin bakalan overheat.


*filter Oli yang sudah banyak gram/pasir besinya.

Scorpio Ngempos/ Hilang Kompresi


Damn, ngapain lagi nih Pio?

Well, pagi itu saya berencana servis Scorpio, karena minggu kemarin ngebul alias ngeluarkan asap putih. Saya pikir ini pasti Klepnya minta di skur/di benerin lagi. Dengan kick starter saya nyalakan, brum.. asap putih ngebul, namanya juga dah 1 minggu nggak dipakai, cuma dipanasin doang. Lhadalah, kok tiba-tiba mati. Coba kick starter lagi, lohhhh... bener-bener ngempos alias nggak ada tendangan balik. Ngelujur saja tuh kick starter. Ini pasti bermasalah sama kompresinya.

Akirnya pagi itu bersusah payah naikin si Pio yang berat ke Pick Up dan loading di Timbul Jaya Motor. Main Dealer Yamaha di Kota Kediri.

Utak-atik dari sam Bagus (mekanik langganan), melaporkan bahwa posisi per ring seher/piston Scorpio kagak pas posisinya. Posisinya saling sejajar, semestinya posisinya saling membelakangi. Posisi sejajar ini mengakibatkan oli merembes ke ruang bakar. Selain oli mesin masuk, posisi ini juga mengakibatkan hilangnya kompresi.

Tidak perlu ganti dan nggak ada yang baret pada dinding ruang bakar maupun pistonnya. Well, tinggal dibenerin lagi aja posisinya. Sekalian juga di stel klep ama yang laennya.

Jam 4 sore, setelah cek lahan ke Tulungagung saya mampir. ke bengkel, untuk melihat kondisi terakhir si Pio. Ya udah, kenapa nggak ganti sekalian seat Gear (rantai) dan Oil Filternya aja sekalian. Saya ambil deh besok sam..

Refresh Karat di Scorpio

Batang Spion bawaan Yamaha biasa bermasalah dengan karat, jika sudah berumur lama dan sering terkena hujan. Nah, daripada nganggur, sore itu saya sempatkan untuk merefresh beberapa bagian dari Scorpio yang sudah berkarat terutama batang Spionnya.

Dimulai dengan membersihkan karat dengan amplas halus ukuran 500/1000, setelah dibersihkan dengan air dan dikeringkan, maka pengerjaan sudah bisa dimulai.

Bermodalkan Pylox warna hitam yang ada di pasaran, saya balur bagian yang sudah diamplas tadi. agar bagus, ambil jarak kurang lebih 15 cm antara sprayer dengan material yang akan dicat. Jangan terlalu tebal. tipis saja. Apabila kurang tebal dapat diulang lagi jika cat pertama sudah kering. Usahakan pengecatan dilakukan secara merata. Perasaan sangat berpengaruh disini.

Setelah beberapa kali di labur dan dirasa sudah cukup tertutup rapi bagian-bagian yang sudah mulai terserang karat tadi, saatnya di dobel sama Pylox warna clear. selain berfungsi sebagai vernish/pelindung, cat clear berfungsi untuk mengilapkan cat tadi.

Setelah benar-benar kering, pasang lagi. selesai..
Nggak terasa sudah sore, waktunya mandi trus jalan-jalan ke Simpang Lima Gumul..huahuahua..

Touring Nostalgia

Saat masih semester 4, sekitar tahun 2002an, rasa penasaran akan jalur selatan Jawa Timur (Malang-Ponorogo) memuncak. Jadi sewaktu ada tawaran mudik naik motor secara bersama-sama melewati jalur selatan dari teman, saya pun mengiyakan.

*foto Jadul ketika di Disperta Blitar. masih dengan Prima AG 6888 TD.

Kemarin, Minggu 11 Juli 2010 saya ingin kembali mengulang memoar itu..cieee.. huks.huks..

Setelah sholat dhuhur, sekitar jam 12.30, saya menstart motor dari daerah Dinoyo ,Malang. Posisi odometer saya "0" kan (Zero). Selama jalur Malang-Kepanjen, kecepatan hanya berkisar 60-80kpj. Seperti biasa, jalur ini memang ramai dan rawan kecelakaan. slow down saja.

Selepas Sungai Metro Kepanjen, si Pio bisa berlari dalam kisaran 100-120kpj. Setelah sejenak beristirahat di tengah tanggul/tembok Bendungan Lahor, perjalanan berlanjut. Walaupun dengan suasana mendung yang menggelayut.

*si Pio mau foto2 dulu.

Saya sempet bingung saat keluar dari pertigaan Desa Selorejo, maklum kompas dan GPS nangkring di Tas. Setelah memakai Garcot alias Garmin cocot (hehehe), perjalanan bisa dilanjut. Sayang, gara-gara hidung yang gatal entah kena apa, perjalanan dari Selorejo sampai di Wlingi agak terhambat. Beberapa kali saya minggir dan berhenti, hanya untung mbenerin nih hidung.

Alhamdulillah, saya sampai di kota Blitar sekitar jam 2an. Menurut diajeng, perjalanan 2 jam itu sudah lama. Loh, yg bener berapa jam? katanya Malang- Blitar bisa dicapai dalam waktu 1,5 jam. Maklumlah, namanya juga nostalgia, dinikmati dong.. lama gak apa-apa..

Menikmati suasana damai, tenang dan nyaman. Hamparan sawah dengan padinya yang menghijau bak permadani. Tidak usah kebut-kebutan sama Bus Eka, Mira apalagi Sumber Kencono yang terkenal gila. Berharap aku bisa menghabiskan sisa umurku menikmati ketentraman kota Selatan Jatim. (berharap.net)

*Raja jalanan Jatim. Mendingan Ngalah ama Bus Arogan ini.

Setelah beristirahat cukup lama di rumah si diajeng. Jam 20.00 tepat, si Pio kembali memecah kesunyian jalur Blitar-Candi Penataran-Ngancar-Wates. Kali ini saya melewati sabo dam alias tanggul buat lintasan aliran lava dingin Gunung Kelud.Sepiiiiiii.... bener-bener sepi, ditambah suasana gelap. wah, ngebut sajalah..

*sabo Dam

Jam 20.45 setelah ngebut-ngebut ria via jalur Wates-Plosoklaten--Pare, karena takut kemaleman, akhirnya sampai juga di Pare.
Btw, besoknya baru ngeliat Odometer. Odometer menunjukkan posisi 135 km. Wihh, deket banget. Saya yang biasanya PP Pare- Bojonegoro saja, bisa mencapai 300an km.

Dan, saya pun ingin kembali mengulang ber touring adventure via Jalur selatan kapan-kapan lagi.

Red Desmosedici ala wong Kampung

"Klo tidak bisa beli Ducati seperti punya bang Triatmono atau kaya punya bro Dukun beranak, maka merasalah seakan-akan naek Ducati. hahaha.. konyol. " (an intro)
Btw, niat ganti tunggangan akhirnya ndak kesampaian. Yang ada malah menambah tunggangan baru untuk menemani beraktivitas sehari hari. Dan pilihan tidak jatuh pada KLX 150, D-Tracker, FU 150 atau Minerva 150Vx. Akan tetapi pada motor sejuta umat. Supra x 125.. trataaaaaa....

Nah, motor Supra x 125R merah inilah yang saya kagumi sebagai "Ducati ala saya".hehehe.
Dengan model yang lancip-lancip dan ide lampu kotanya yang ala mobil Lamborghini (saya liat di Discovery), membuat saya kepincut.
*Desain lampu kota yang oke

Ditambah, saya pernah jalan-jalan dengan Supra x 125R punya teman (warna merah putih), wihhhhhh.. tarikannya mirip ama Karisma 125D milik kakak. Panjang.....

*AG 5321 TC punya mbak Inong

Impresi pertama, baru bisa dilakukan pada hari ketujuh setelah Ducati ini datang dirumah. Maklum, kebanyakan touring ama si Pio. Jadi terbengkalai tuh Supra. Hasilnya,vTarikan oke, gigi 1 nyampai 30Kpj, gigi 2 nyampai 60, bahkan gigi 3 nyampai hampir 80kpj. saya ndak berani lagi buat menyiksa. Maklum, masih inreyen. Klo ma Scorpio mah. 140 kpj hayukkk..

Dengan kerepotan sewaktu belanja, membawa barang, berjalan di jalan sempit, harga onderdil yang mahal, tarikan yang terlalu responsif. Kayaknya cukup untuk menjadikan si Pio sebagai pajangan saja.
Dengan supra x ini, saya berharap bisa jadi bebeker yang suka nyempil-nyempil jika kena macet, gampang lewat galengan (batas petakan sawah), dan yang jelas dengan murahnya onderdil maka acara menyiksa bebek ini bisa sepuasnya dilakukan di medan Bojonegoro dan Tuban yang ganas.wakakakkkkk...

*supra x beda generasi

at least, Keep Safety Riding dan semoga motor ini membawa berkah.
Buat si Pio : "Jangan ngiri ya motor kesayanganku..."

Buat impresi luar kotanya, nunggu STNK dan Plat nomer AE 6000 ** nya muncul ya.hehehe

Main switch Modifikasi rusak. gimana?

s
kunci modif model lambang Nazi.

Begini ceritanya tuh kunci bisa rusak :
Main switch si Pio seperti postingan sebelumnya, saya ganti dengan model Nazi.

Dab, setelah mampir sejenak d kost teman sehabis touring dari Kelud, kunci kontak kagak bisa masuk sama sekali. Pusing dah, dicoba puter-puter, pakai cara kekerasan (haha..), bahkan pake kunci cadangan, tuh kunci kagak bisa masuk.

setelah saya tanya ke tukang kunci, barulah ketemu jawabannya. Kunci modif, jika dalam pemakaiannya tidak pas alurnya, trus dipaksakan. maka lama-kelamaan dia akan otomatis merusakkan diri alias harakiri gitu. Hal itu memang bagus buat keamanan, tapi jika sampai makan tuan, mau nggak mau harus diganti baru lagi. Karena tukang kunci sudah tidak bisa memperbaiki lagi.

Untung, saya tidak kunci setang, setelah berhasil menarik 1 kabel warna hitam. pake tendangan kuat ke kick starter. Brummmm.. Alahamdulillah, untuk sementara si Pio bisa jalan. Walo, nggak bisa pakai sein, kagak bisa nge Bel dan lampu rem mati.

walah, anti Safety riding..
cerita selanjutnya gimana? cekidot postingan sebelumnya.

Touring dengan Accu Mati??

Demi menjalankan sebuah pekerjaan. Mau nggak mau saya harus berangkat pagi itu. (hahaha, kok puitis bahasanya). Perasan malas berkecamuk, karena saya harus menaiki si Pio yang notabene mati sistem kelistrikannya.
Berangkat pagi-pagi dari Pare masalah belum ditemui, namun ketika sampai Tembelang, Jombang ada masalah. Biasalah para selononger hampir aja saya tabrak dari belakang. Damn, dah mati-matian mencet tombol bel kok gak nyala. Untung langsung keingetan bahwa main switch rusak. (hahahaha...).

Selama cek kondisi tanaman padi di kabupaten Bojonegoro, saya masih merasa aman-aman saja. Toh, saya banyak melewati jalur persawahan, yang notabene klakson dan sein tidak begitu diperlukan. Apalagi melewati beberapa kuburan tua.(hiiii...)
*si Pio lagi markir di kuburan
Begitu mau balik ke Kediri sudah malam. Untung, sistem kelistrikan lampu Scorpio terpisah dari accu. Maksudnya, diambil dari alternator/AC. Wih,, untung masih ada lampu utama. Apa jadinya jika lampu utama si Pio seperti sitemnya Mega Pro, tiger apa V-ixion.

jadi kesimpulannya :
  1. Mengendarai motor dengan accu mati (tanpa sein, klakson, lampu rem ) sangatlah tidak nyaman. Karena faktor safety berkurang drastis.
  2. Ya, harus segera pesan ke Dealer untuk ganti main switch yang original. (saya pesan 1 minggu kemudian, dan barang ready 3 hari setelah pemesanan dengan harga Rp.167.000).

Touring ke Gunung Kelud

Dengan berbekal hanya 1 botol air minum ukuran 600ml , kami bertiga meluncur ke Gunung Kelud. Jarak Gunung Kelud tidak begitu jauh, karena kami berangkat dari kantor yang berada di Kec.Plosoklaten, yang berjarak kurang lebih 45km. Saya sebetulnya sudah pernah kesana, namun perjalanan kali ini lebih berkesan dikarenakan naik motor. Mampu nggak sih Si Pio melahap jalur penanjakan? berboncengan lagi.

Mulai memasuki wilayah kecamatan Ngancar. hamparan kebun nanas tersaji di sebelah kanan dan kiri jalan. Kurang lebih perjalanan selama 30 menit kita sampai d Loket pintu masuk. Kita bertiga dengan 2 Motor ditarik Restribusi Rp.18.ooo,-. Saya kurang tahu tentang per tarifnya, karena saya lebih kesengsem sama mbak yang jaga loket.hehehe...

Kita istirahat sejenak, sekaligus mencoba "Misterious Road". Namun, kita menganalisa lain tentang fenomena anti gravitasi tersebut. Kita coba lirik kemiringan jalan. secara kasat mata terlihat jalan tersebut mendatar, namun mata jeli kita menangkap bahwa jalan tersebut memang miring dengan sudut yang kecil. Sehingga, jelas saja motor yang kita pakai bisa meluncur. (silahkan disanggah jika tidak setuju). CMIIW.

(misterious road)

Kita sempatkan juga mengambil beberapa foto di beberapa tempat, biasalah. :b
Setelah membayar Rp.2.000 untuk restribusi parkir, kita langsung menuju Tunnel/terowongan. terowongan tersebut gelap. Kita hanya bisa melihat seberkas cahaya dari ujung. Konon, terowongan yang menembus Puncak Gunung Gajah Wungkur tersebut dibangun pada tahun 1940 oleh Jepang. Namun, ada sumber lain yang menyebutkan dibangun 1951 dan berfungsi sebagai jalan pembuangan lahar.

Ada sesuatu yang saya yakin tidak banyak orang tahu. Bahwa di tengah-tengah terowongan sepanjang 1 Km ini, di sebelah kiri jika kita masuk, ada sebuah lorong berpintu yang menuju entah kemana. Lorong tersebut sangat panjang dan jauh menembus kedalam tubuh gunung. Begidik kita bertiga melihatnya. (ada yang tahu enggak tentang terowongan tambahan ini?)
(japan tunnel)

Hampir copot nih kaki menanjak 504 anak tangga (kita hitung bersama2 loh)untuk sampai di puncak atau Gardu Pandang anak Gunung Kelud. Dari puncak terlihat pemandangan yang indah dan lepas ke segala arah. Subhanallah... Maha besar engkau Ya Allah. Indah sekali pemandangan dari atas. Apalagi jika menikmati tebing terjal di sebelah selatan kawah yang terlihat begitu indah, laksana tempat bertapanya si kera sakti Sun Go Kong (hahahahahhhaa....)

(tebing sun go kong)

Kita memaksakan diri untuk turun dari gardu pandang, karena sudah mulai turun hujan, kabut tebal dan angin kencang = badai. Hanya semangat ingin mencari semangkuk Mie rebus telor yang maknyosslah yang membuat kaki yang masih lelah ini ,tetap mampu dipaksakan melangkah turun.

Nikmatnya, segelas Joshua menemani lahapan Mie telur rebus, tahu goreng dan kerupuk. Tak lupa cabe utuh 2 butir masuk perut. Keringat mengucur deras. Hangat dan Nikmat.
Akhirnya, acara uklam-uklam alias jalan-jalan harus kita sudahi karena hari menjelang sore. Sedikit info, bahwa gerbang Gunung Kelud ditutup dan dikunci rapat/ digembok pada pukul 17.00. Sehingga kunjungan ke anak Gunung kelud dibatasi dari jam 08.00-16.00.
(gerbang yg berjarak 2.5 Km dari pusat kawah/ anak Gunung Kelud)

masih ada lokasi wisata laindalam 1 komplek anak Gunung Kelud ini :

Berikutbeberapa Link yang bisa menambah informasi tentang Anak Gunung Kelud.

http://wisatakediri.indonesiatravel.biz/paket-wisata/fenomena-munculnya-anak-gunung-kelud/
http://www.antarajatim.com/lihat/berita/31320/anak-gunung-kelud-fenomena-keajaiban-alam

Cara Murah Usir Goyang Di Tangki Yamaha Scorpio Z

Getaran alias vibrasi motor memang cukup besar. Maklum saja, mesinnya hanya satu silinder, apalagi kalau kapasitasnya lumayan besar, seperti pada Yamaha Scorpio yang 223 cc.

Efeknya lama-lama beberapa komponen akan terpengaruh getaran ini. Seperti Tangki bensin, sudahlah menggendong bensin, lantas menerima getaran mesin dan gerakan bodi kala melaju. Tetapi, ada cara lho usir tangki goyang alias bergetar ini.

MURAH MERIAH
Hal seperti di atas dirasakan juga oleh Eko, penunggang Scorpio 2007. Terkadang, kala berjalan suara getaran terdengar di telinga. “Termasuk saat diam saja, kalau gas diputar naik, akan terasa getarannya,” ungkap penggemar solo touring ini.

Gbr 1

Gbr 2

Gbr 3

Gbr 4

Padahal, jika dilihat konstruksinya, tangki ini sudah dirancang agar minim getaran. Seperti beberapa bagian selalu diselubungi karet sebagai peredam getaran. Seperti dudukan pada sasis (gbr.1), lantas sandaran tangki yang menempel di sasis pun terlindungi dari karet (gbr.2).

Penasaran pun muncul di benaknya. Fokus pada bagian-bagian yang dirancang agar meredam getar, ternyata di­temukan penyebabnya. Seperti pada sandaran tangki di sasis sebelah dalam tangki.


Gbr 5
Pada bagian ini sebagian karetnya aus (gbr.3), tentu karena pada satu bagian saja yang bergesekan dengan rang­ka tangki terus menerus. Agar kembali menempel pada karet yang masih bagus, ada cara murah meriah, tinggal putar saja karetnya, bagian yang aus menghadap belakang (gbr.4).

Kemudian ditemukan lagi pe­nyebab lainnya. Pada bagian tatakan belakang, terdapat lubang baut dan karet peredam sekaligus. Pada bagian tengah baut ini diselubungi karet. Nah, karet ini pun aus, bagian pinggirnya terkikis besi di tangki.

Cara mengatasinya enggak usah bu­ru-buru ganti karet baru. Tinggal cari sa­ja isolasi, lalu lilitkan pada karetnya (gbr.5) sehingga ketebalannya mirip dengan sebelumnya. Coba dulu beberapa lilitan, jika kurang lilit lagi dengan isolasinya. Mudah dan murah meriah, kan?

Penulis/Foto: Ben / Reza
*di copy paste dari Otomotif.net> semoga berguna bagi SCorpioholic

Atasi Engine Stop Yamaha Scorpio Ngadat

Sama seperti beberapa motor sport lain, mematikan mesin pada Yamaha Scorpio tidak perlu memutar kunci kontak ke posisi off. Tapi cukup memanfaatkan tombol fitur engine stop (ES). Hanya tinggal tekan knob ke posisi off, mesin motor akan mati. Simpel, kan?

Cuma ya itu, akibat keseringan dipakai, tapi minim perawatan, kerap kali membuat peranti tersebut rusak atau bermasalah. Seperti dialami Reza Ikhsan, pemilik Scorpio keluaran 2007. “Starter bisa, tapi kok engine stopnya gak berfungsi,” ungkap mahasiswa BSI, Jakarta ini.

gambar 1

gambar2

Reza pun segera membawa motornya ke bengkel terdekat. Di sana, dia bertemu Eric Ariyanto salah satu penggawang bengkel Pit Bike di kawasan Jl. Kembang Kerep, Maruya, Jakbar. “Gak usah bingung, ini cuma masalah di kabel-kabelnya aja. Tinggal kita urut lagi dan bisa dikerjakan sendiri, kok,” ujar Eric.

Caranya, pertama kita bongkar pusat permasalahannya, ES yang ada di setang. Gunakan obeng kembang (+) (gbr.1). Setelah semua terlepas dari pegangannya, langsung kita buka peranti tersebut sampai terbelah dua. “Pertama, cek rumah ES itu. Apakah ada yang aneh (misal karat atau ada mekanisme yang rusak), bila tidak kita tinggal bersihkan saja,” sarannya sembari bilang bisa memanfaatkan cairan penetran.

gambar 3

gambar 4

Berikutnya mengurutkan kabel-kabel terkait dengan mekanisme di ES. Pertama Kita buka batok lampu dengan obeng kembang (+). Lantas kita urut kabel dari ES-nya sampai ditemukan satu kabel berwarna hitam-putih (gbr.2).

gambar 5

Kalau sudah, gunakan avometer (gbr.3) cermati jarum penunjuknya, apakah bergerak menndakan ada tegangan atau malah diam saja indikasi tidak ada arus. Bila tidak ada, berarti masalah sudah ditemukan. Tinggal kita perbaiki.

Langsung potong kabel bermasalah itu pakai gunting (gbr.4). Berikutnya, kita sobek permukaan kabel sampai bertemu serat di dalamanya. Jika sudah, kita tinggal sambung lagi (gbr.5).

Terakhir, kita coba pengetesan pada ES. Jika sudah berfungsi normal, silakan membalikkan pengerjaan seperti awal kembali. Oh ya, jangan lupa pada kabel yang sudah kita sambung tadi ditutup lagi menggunakan isolasi agar tak terjadi hubungan pendek alias korsleting.

(dari otomotif.net)

Alternatif Karburator Scorpio

 Yamaha Scorpio dari pabriknya menganut karburator model vakum yang terkenal efisien. Namun pemilik Scorpio yang berumur lebih dari tiga tahun kerap mengeluhkan performa karbu jadi menurun. “Itu lantaran karet vakum sudah mulai keras. Tentu ngaruh terhadap isapan bensin yang kurang maksimal. Akhirnya tarikan kurang responsip,” jelas Ari Supriyono, punggawa bengkel Protechnics.


Tinggal ganti karet vakum, masalah bakal selesai. Namun banyak yang mengeluh harga karet vakum yang mencapai Rp 400 ribu (Rp.671ribu per Mei 2010*edited by Tarom). “Ada yang sekalian ganti karburator model skep, tarikan lebih oke dan harga beda tipis,” ujar Rigno, pemilik Scorpio dari klub DPR Otomotif Community.

Ada berbagai pilihan karbu skep yang banyak dijual toko variasi. Paling banyak dipakai Scorpio yaitu Keihin. Tersedia tiga model atau varian yang ditawarkan, yaitu PE, PWL dan PWK. “Ketiganya berventuri 28 mm. Secara kasat mata modelnya mirip. Namun buat pemasangan dan seting punya perlakuan berbeda,” tambah Ari dari Jl. Pahlawan, No. 1, Rempoa, Ciputat, Tangerang.

Mari bahas satu per satu. Mulai dari Keihin PE, harga Rp 500 ribu-Rp 600 ribuan, paling banyak diminati pemilik Scorpio. Karbu PE Punya karakter tarikan atas oke. Namun putaran bawah agak sulit didapat. “Bila ingin tarikan bawah dapat, kompresi harus dibikin lebih padat,” terang mekanik berambut ikal ini lagi.

Untuk seting karbu ini, paling pas pakai spuyer ukuran 115 buat main -jet sedang 42 buat pilot-jet. “Buat atur putaran anginnya satu seperempat putaran balik setelah diset mentok,” lanjut Ari yang  menjelaskan bila tipe PE jarum skepnya sudah fix tidak bisa disetel.

Pilihan kedua, adalah Keihin PWL. Banderol yang dipasang mulai Rp 700 ribu–800 ribuan. Keunggulan dari tipe PWL memiliki jarum skep yang bisa distel. “Untuk seting jadi lebih mudah. Jadi, sebelum ganti spuyer bisa disetel dari jarum skepnya dulu,” jelasnya.

Karakter PWL buka-bukaan gas lebih oke buat jarak pendek. Karakter ini cocok buat trek dalam kota dan ubahan Scorpio trail. “Sedang untuk putaran atasnya masih bagus tipe PE,” ujar Ari yang kasih bocoran seting spuyer untuk main-jet ukuran 120 sedangkan pilot-jet 48, dengan putaran angin lebih kurang 360 derajat alias satu putaran.

 Terakhir, Keihin PWK, tipe ini paling spesial dari dua model di atas. Lantaran untuk tarikan bawah dan atas seting karbu mudah didapat. Namun harga juga spesial, Rp 2,2 jutaan. Tipe ini punya skep model oval. Tapi untuk main-jetnya tidak sama, dimensi lebih panjang dari dua tipe sebelumnya di atas. “Cocoknya pakai main-jet yang biasa diaplikasi karbu Keihin motor SE,” cerocos Ari.

Untuk urusan seting spuyer di Scorpio, memang jauh lebih mudah. Main-jet ukuran 120 sedang pilot-jet 48. Setelan angin cukup digeser 1,5 putaran balik setelah diputar mentok. Getooo, lhoooo...!

Penulis/Foto : Belo/Boyo

(Di copy paste dari Tabloid Motor Plus, semoga berguna bagi pemilik Scorpio)